Kawah Ijen yang Memukau

Liburan panjang sekolah dibulan Juni/Juli 2014 merupakan liburan keluarga kami yang tak terlupakan. Kami memutuskan untuk melakukan perjalanan darat dari Jakarta dengan mobil keluarga menuju Sumbawa. Agar perjalanan kami tidak membosankan, kami memutuskan untuk singgah dibeberapa tempat wisata alam yang direkomendasikan. Jadilah Kawah Ijen di Banyuwangi persinggahan kami di tengah perjalanan menuju Sumbawa.
Perjalanan kami dari Jakarta menuju Banyuwangi memakan waktu hingga 22 jam dan menghabiskan sekitar 73 liter solar….sangat irit.
Kami memutuskan untuk tinggal di sebuah penginapan murah yang direkomendasikan oleh banyak turis asing, Kampung Osing Homestay. Penginapan ini sangat bersih dan sang pemilik, Ganda, sangat ramah. Ganda memberi kami banyak informasi tentang Kawah Ijen bahkan membantu kami mencarikan porter untuk menggendong anak kami yang masih berumur 3 tahun. Para porter adalah para penambang belerang di Kawah Ijen. Jika menambang mereka hanya dihargai sekitar 800 Rupiah per kg (rata-rata 70-90 kg sekali angkut) atau antara 70-100 ribu rupiah per 1 kali menambang, maka pekerjaan sebagai porter jauh lebih ringan, lebih menguntungkan dan lebih sehat.

Para penambang sulfur

Para pekerja tambang

90 kg

Perjalanan kami dari penginapan menuju kaki gunung Ijen memakan waktu sekitar 1 jam dengan menggunakan mobil. Kami harus berangkat paling lambat jam 00.30 pagi agar dapat tiba ditujuan sebelum matahari terbit. Diluar dugaan, Ganda sudah siap dengan motornya mengantar kami hingga ke ujung jalan yang mengarah ke Ijen.
Pendakian kami ke puncak Ijen memakan waktu sekitar 3 jam dari kaki gunung…biasanya pendakian bisa ditempuh dalam waktu 2 jam. Anak kami yang pertama, Abigail, cukup kuat melakukan mendakian hingga ke puncak Ijen….we are so proud of you.

Saat kami sampai di puncak gunung, matahari masih belum terbit sehingga saya masih punya kesempatan untuk menyaksikan api biru (bluefire) yang ada di dekat lokasi kawah. Saya memutuskan untuk turun sendiri dengan salah seorang porter, sementara suami menunggui kedua putri kami di puncak Ijen.

Sang Porter

Di tempat peristirahatan

Perjalanan menuruni kawah lebih berbahaya daripada saat mendaki karena sangat terjal dan berbatu hingga perlu extra hati-hati. Sesampai di dekat kawah, saya hanya sempat menyaksikan api biru selama 5 menit…agak kecewa rasanya saat itu.

Saya tidak langsung memutuskan untuk kembali ke puncak Ijen tapi menunggu hingga kabut dan asap hilang. Para pengunjung yang telah menyaksikan api biru sudah kembali ke atas puncak. Setelah satu jam menanti dan asap mulai hilang…… kawah Ijen pun tampak dan benar-benar memukau. Penantian saya tidak sia-sia.

Kawah tertutup asap

Kawah Ijen

Kawah Ijen

Perjalanan menuruni kawah

Di puncak Gunung Ijen

Sekitar jam 9 pagi, kami turun dari puncak Ijen. Karena musim panas, kondisi jalan lebih licin dari musim penghujan karena tanah gunung bercampur pasir. Anak kami beberapa kali terperosok karena  alas kaki yang digunakan hanya sandal jepit….tapi perjalanan tetap dapat ditempuh dengan aman hingga sampai ditujuan.

Perjalanan turun....

Para Penambang Sulfur

Berbicara tentang Banyuwangi, ada banyak tempat wisata alam yang eksotis yang bisa jadi tujuan wisata keluarga yang menyenangkan.

Wisata alam bersama keluarga dapat menjadi kesempatan yang baik untuk mendidik anak-anak menghargai Sang Pencipta, Allah Yehuwa. Terima kasih untuk semua ciptaan yang Engkau karuniakan…….

Iklan

2 pemikiran pada “Kawah Ijen yang Memukau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s