Melepas Tukik di Ujung Genteng, Sukabumi

Sunset di Ujung Genteng
Sunset di Ujung Genteng

Masih ada satu hari lagi dari 3 hari perjalanan kami ke Sukabumi. Setelah menghabiskan satu malam dan setengah hari di Cileteuh, kami lantas melanjutkan perjalanan ke Ujung Genteng. Mendengar nama Ujung Genteng, mungkin kita teringat akan surfing, memancing, pantai pasir putih, penyu atau air terjun. Yup, itu semua bisa kita lakukan dan saksikan di sana.

Perjalanan dari Cileteuh hingga ke Ujung Genteng memakan waktu sekitar 4 jam. Sepanjang perjalanan kita dapat menyaksikan kebun teh yang dikelilingi oleh pegunungan. Mengingat banyaknya jalan yang menikung tajam, maka perlu extra hati-hati dalam menempuh rute ini.

Kami pun tiba di Ujung Genteng sekitar jam 3.30 sore. Memasuki wilayah ini, kita akan menemui banyak tempat penginapan, mulai dari penginapan bedeng hingga resort bintang 3. Saya pun mulai mencari informasi dimana tempat berkemah yang aman dan nyaman dari seorang nelayan sekitar. Entah karena sang nelayan ingin menawarkan kami untuk menyewa rumahnya atau karena memang peduli dengan keselamatan kami, dia pun tidak merekomendasikan kami untuk berkemah di Ujung Genteng. Ceritanya benar-benar membuat kami ragu dengan rencana kami berkemah di tempat ini…namun hal itu tidak membuat kami merampungkan niat untuk menikmati indahnya Ujung Genteng. Kami pun mengesampingkan pembicaraan tentang berkemah dan mulai menggali informasi tentang pelestarian penyu di daerah itu.

Menunggu sore
Menunggu sore

Senangnya kami mendapat informasi bahwa pada jam 5.30 sore itu akan ada pelepasan anak penyu (tukik) di pantai Pangumbahan. Selain itu, di sana adalah tempat terbaik menyaksikan indahnya matahari terbenam dan merasakan halusnya pasir pantai. Tanpa menunggu lama, kami pun langsung menuju ke pantai Pangumbahan yang terletak di ujung jalan, sekitar 25 menit berkendara dari tempat kami berbincang dengan sang nelayan.

Memasuki lokasi pelestarian penyu
Memasuki lokasi pelestarian penyu

Untuk melihat pelepasan tukik, kami hanya cukup membayar tiket masuk untuk anak-anak seharga Rp. 5,000 (lima ribu Rupiah) dan tiket dewasa seharga Rp. 10,000 (sepuluh ribu Rupiah).

Kami sangat beruntung karena hari itu ada cukup banyak telur penyu yang telah menetas pada malam sebelumnya, sehingga hari itu para tukik siap dilepas di lautan bebas. Menurut petugas yang ada di sana, belum tentu setiap harinya ada telur penyu yang menetas. Sering kali pada hari Selasa sore, tidak ada tukik yang siap dilepas.

Para pengunjung menerima masing-masing 1 ekor tukik yang siap dilepaskan
Para pengunjung menerima masing-masing 1 ekor tukik yang siap dilepaskan
Jika dia selamat dan bertahan hidup di laut lepas, dia akan kembali 25 tahun lagi ke Pangumbahan.
Jika dia selamat dan bertahan hidup di laut lepas, dia akan kembali 25 tahun lagi ke Pangumbahan.

Saran saya, apabila kalian tertarik untuk ikut melepas bayi penyu, sebaiknya tiba paling tidak 30 menit sebelumnya agar dapat menyaksikan indahnya matahari sore di pantai ini.

Sore hari di Pantai Pangumbahan
Sore hari di Pantai Pangumbahan

Selain kita bisa melepas tukik di pantai ini, kita juga dapat menyaksikan penyu bertelur pada malam hari. Jika beruntung, pada jam 8 atau 9 malam kita dapat menyaksikan atraksi ini. Untuk melihatnya, kita dikenakan tarif berkisar Rp 150.000 (seratus lima puluh ribu Rupiah) per orang…..mungkin bisa nego.

Jika tertarik untuk surfing, kalian bisa berkunjung ke Pantai Ombak Tujuh. Namun untuk menuju lokasi ini cukup sulit, perlu menyewa ojek yang tarifnya sekitar Rp. 200.000 (dua ratus ribu Rupiah) untuk perjalanan pulang pergi.

Di Ujung Genteng, terdapat air terjun yang sudah sangat kondang apalagi bagi para pencinta photography, air terjun Cikaso. Tempat ini layak dikunjungi, apalagi saat musim penghujan karena debit air terjun akan melimpah. Menurut informasi dari sang nelayan, kita bisa berenang di air terjun ini dan ada pengelola yang menyediakan pelampung atau ban untuk berenang di sana.

Setelah puas bermain di pantai, kami akhirnya memutuskan untuk menyewa kamar di Pondok Hexa. Harga yang kami dapatkan untuk 1 kamar AC double bed plus water heater adalah Rp. 380.000/malam (tidak termasuk sarapan). Pondok Hexa adalah penginapan yang cukup lama di daerah ini, namun cukup terjaga kebersihannya. Selain itu, kita bisa parkir kendaraan persis di depan pondok. Lokasi Pondok Hexa sangat strategis, terletak di depan pantai yang landai, sehingga cocok untuk anak-anak berenang. Karena landainya, kita dapat berjalan hingga ke tengah pantai, cocok untuk kalian yang hobby memancing. Namun seraya hari semakin siang, pantai ini akan surut sehingga permukaan lautnya menjadi kering.

Pantai di depan Pondok Hexa
Pantai di depan Pondok Hexa
Pantai depan Pondok Hexa
Pantai depan Pondok Hexa
Pondok Hexa
Pondok Hexa

Kalau kalian ingin menginap di tempat yang lebih bagus lagi, dapat mencoba Turtle Beach Resort yang lokasinya dekat dengan gapura Pantai Pangumbahan. Untuk harga kamar dimulai dari 350 hingga 700 ribu Rupiah per malam saat itu.

Buat kalian yang mungkin punya budget minim dapat mencoba penginapan yang ditawarkan oleh penduduk setempat, harganya berkisar antara 150 – 300 ribu Rupiah per malam tergantung fasilitas dan jumlah kamar yang disediakan. Biasanya tanpa AC, hanya kipas angin saja.

Akhirnya sebelum makan siang, kami pergi meninggalkan Ujung Genteng. Di tengah perjalanan, kami mencoba berhenti dan menikmati suasana makan siang di tengah sawah…..

Lokasi makan siang
Lokasi makan siang
Mari Makan
Mari Makan
Panas terik tidak membuat mereka berhenti bermain
Panas terik tidak membuat mereka berhenti bermain

Berikut perkiraan pengeluaran liburan 4 hari 3 malam ke Goa Langir – Cileteuh – Ujung Genteng

  • Solar                           = Rp.  300.000,- pp
  • Makan utk 5 org: Rp. 170.000/hr x 3 = Rp   510.000
  • Parkir Cileteuh            = Rp.     10.000 / malam
  • Porter Crg Awang & sewa MCK       =  Rp.     50.000
  • Sewa MCK di Goa Langir @ 5,000 =  Rp.  25.000 (utk 5 org)
  •  Pondok Hexa – 3 org dewasa         =  Rp. 380.000 per malam
  • Melepas tukik                                  =  Rp.   40.000 (2 anak + 3 dewasa)
  • Pengeluaran lain-lain                      =  Rp.  185.000
  • Total pengeluaran            = Rp. 1.500.000 : 5 = Rp. 300.000 / org

Silakan dibandingkan dengan berlibur ke mall atau tempat hiburan lainnya di Jakarta untuk tiga hari. Semoga informasi saya kali ini, dapat memberi masukkan untuk liburan keluarga kalian yang lebih bermanfaat.

Iklan

6 pemikiran pada “Melepas Tukik di Ujung Genteng, Sukabumi

  1. Sekarang pengelolaannya Ujung Genteng sebagai tempat wisata udah sedikit lebih baik dibanding 10 tahunan yang lalu. Cukup maju dan dilirik sama wisatawan rupanya. Terutama soal pengelolaan penangkaran penyu di Pangumbahan. Waktu saya SD, saya inget telor penyu dijual bebas. Setahu saya, hewan ini termasuk hewan yang dilindungi ya. Sekarang, mungkin masih ada, entah.. Tapi kalau pun ada, mungkin ga seberani dulu jual telor penyunya.

    …dan, waw! Mahal juga ya retribusi liat penyu bertelur di sana? Ini resmi dan dapet tanda bukti pembayaran, Mba? Sekitar 3 tahun lalu, saya cukup bayar ‘retribusi seikhlasnya’. Hehe.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Terima kasih mas untuk guratan tambahannya. Sekarang sepertinya sdh tidak ada lagi penjualan telur penyu. Untuk lihat penyu bertelur memang tergolong mahal, makanya lansung batalkan niat utk lihat (hehehe…kalau perginya sendiri bolehlah dicoba tapi kalau bawa rombongan keluarga, pikir2 dulu). Kami saat itu tdk dapat bukti pembayaran utk lihat pelepasan tukik tapi mrk pampang harga tiket masuknya di loket.

      Suka

  2. trims mba info nya berguna sekali kebetulan saya juga lagi planning trip ke ujung genteng, yg mau sy tanyakan adalah apakah untuk pelepasan penyu pasti di jam-jam sore hari dan bisa disaksikan setiap hari, atau ada hari tertentu? trima kasih

    Suka

  3. Assalamualikum,
    selamat sore ka, saya mau tanya kira-kira bulan apa yang tepat untuk melakukan kegiatan pelepasan tukik di ujung genteng ka?
    Kebetulan saya dari mahasiswa IPB akan melaksanakan kegiatan konservasi dengan melakukan pelepasan tukik bersama.
    Nah selain pelepasan tukik, kira2 kita bisa dapat guide dari pengelola ngk ka? setidaknya pengurus yang memberikan ilmu konservasi ke mahasiswa.
    mohon jawabannya ya ka.. lagi butuh informasi tersebut hehe

    terimakasih

    Suka

    1. Hi Riki,Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. Saat itu kami melepas tukik di bulan Oktober. Kebetulan saya kurang informasi untuk musim tertentu, yang saya tau para tukik perempuan yang dilepas di sini akan kembali saat mereka dewasa untuk bertelur. Di sana ada pengurus yang senang hati membagikan keterangan koq, sebaiknya datang jauh lebih awal sebelum jam pelepasan tukik supaya bisa banyak bertanya.
      Sukses ya untuk kegiatan konservasinya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s