Baduy Dalam, Mulai dari Durian yang Lezat Hingga Kearifan Local yang Memesona

IMG_6225 (1024x683)

Hari Senin siang itu di awal Januari kala musim durian di Baduy,  kami beserta teman-teman tancap gas ke stasiun Ciboleger, sekitar 1,5 jam dari Rangkas Bitung sebelum lanjut ke Cibeo. Ada beberapa bagian jalan yang rusak yang harus kami lewati namun masih tergolong aman dan bagian lainnya menyuguhkan pemandangan luar biasa dari pegunungan Kendeng, rumah dari orang-orang Suku Baduy atau dikenal dengan Urang Kenekes.

Pegunungan Kendeng1
Pegunungan Kendeng

Sesampainya di lokasi, kami dikejutkan dengan pemandangan anak-anak yang masih kecil yang memikul beberapa buah durian, mulai dari 6 buah hingga 20 buah sekali angkut, untuk dibawa ke gudang durian yang ada di Ciboleger. Diantara mereka ada yang mungkin masih berumur 3 atau 4 tahun.

Siang itu, kami cukup beruntung karena bertemu langsung dengan 3 orang anak Suku Baduy Dalam yang ada di Ciboleger sehingga kami pun tidak memerlukan guide Suku Baduy Luar. Selain sebagai guide, mereka pun membantu kami membawa barang-barang bawaan termasuk menggendong anak kami yang masih kecil. Salah seorang dari antara mereka yang bernama Sapri menawarkan kami untuk bermalam di rumahnya. Orang tuanya memiliki ladang durian sehingga kami dapat langsung membeli dari ayahnya. Tawaran yang luar biasa.

The Porters
Sapri dan keluarganya

Desa Baduy Dalam terbagi tiga yaitu Cikertawarna, Cibeo dan Cikeusik. Untuk mencapai lokasi Baduy Dalam ada 3 akses yang dapat digunakan, mereka menyebutnya jalur Gajeboh (Gazebo), Danau dan Cijahe. Kami pun mengambil jalur Gajeboh untuk sampai ke Cibeo. Jalur ini adalah jalur terpanjang namun memiliki pemandangan terindah dari antara ketiganya. Tidak terhitung tanjakan curam dan turunan licin yang harus dilalui. Kami cukup terhibur dengan melihat pemandangan indah sepanjang jalan, serta impian untuk segera menyantap durian Baduy.

IMG_6333 (1024x683)
Pemandangan umum di teras rumah-rumah orang Baduy Luar

Sayangnya ketika mulai memasuki wilayah Baduy Dalam, kami tidak dapat menggunakan kamera untuk merekam keindahan luar biasa dari daerah perbukitan yang kami lewati. Tampaknya larangan mengambil foto di daerah Baduy Dalam terkait dengan sejarah masa lalu dimana penduduknya sengaja menutup diri agar tidak diserang oleh musuh. Jika pemandangan di desa Baduy Luar sudah membuat saya takjub, maka pemandangan memasuki area Baduy Dalam jauh membuat saya lebih takjub lagi dengan karya ciptaan sang Pencipta, Allah Yehuwa.

Pohon durian di Baduy tumbuh di hutan. Buah durian yang dipanen rata-rata buah yang sudah masak dari atas pohon. Buah-buah durian yang ada pada pohon yang tumbuh di jalan yang dilalui manusia diikat dengan tali rafia agar tidak jatuh menimpa kepala orang yang lewat. Harga durian Baduy dibandrol mulai 10 ribu hingga 20 ribu Rupiah per buah tergantung besarnya. Rasa antara buah durian dari pohon yang satu dan lainnya bisa berbeda sehingga menjadi petualangan tersendiri saat mencoba rasa durian Baduy. Tidak perlu ragu, rata-rata rasa durian Baduy legit dan lezat tak jarang ada yang sudah mengandung alkohol karena masak pohon. Tidak jarang satu pohon durian dapat menghasilkan ratusan buah durian bahkan ada yang hingga 500 buah dari satu pohon saja.

IMG_6312 (1024x683)
Desa Cibeo terletak di salah satu bukit yang ada diseberang.

Akhirnya, kami pun tiba di Desa Cibeo pada jam 18.30 wib setelah berjalan kaki sekitar 6,5 jam (termasuk istirahat dan foto-foto). Sungguh beruntung rumah keluarga Sapri dekat bantaran sungai sehingga memudahkan kami melakukan kegiatan MCK. Mereka pun membagi area MCK untuk laki-laki dan perempuan. Istri Sapri, Sarah, sangat sabar menemani kami, kaum perempuan, bolak balik ke sungai sepanjang malam.

Malam itu, sepulangnya ayah Sapri dari ladang, kami pun langsung disuguhi buah durian yang melimpah yang dipanen dari ladangnya. Jangan ditanya harga yang harus dibayar, ini adalah pemberian dari penghuni rumah yang merupakan caranya menyambut tamu. Tidak ada patokan harga yang pasti yang harus diberikan pada keluarga Sapri untuk biaya menginap atau makanan yang disediakan selama apa yang mereka suguhkan adalah milik pribadinya. Semuanya ditarif dengan harga seikhlasnya. Walaupun demikian, bijaksana untuk memberikan mereka harga yang pantas untuk apa yang telah mereka sediakan. Keramahan dan kebaikan hati mereka tidak dapat digantikan dengan uang.

Malam itu, kami menyaksikan kunang-kunang bertaburan di dalam dan di luar rumah. Pengalaman yang berharga bagi anak-anak kami dapat menyaksikan binatang langka yang satu ini di kota metropolitan.

Keesokan paginya, sarapan sudah siap. Sarah sudah memasak nasi dan ikan tongkol asap yang kami beli dari Ciboleger. Ayah Sapri sudah menyiapkan kopi. Keluarga Sapri cukup modern, mereka menyediakan piring dan mangkuk keramik yang dikhususkan bagi para tamu. Mereka sendiri  tetap menggunakan peralatan makan tradisional sesuai dengan budaya mereka. Pepatah suku Baduy Dalam adalah lojor heunteu beunang dipotong, pendek heunteu  beunang disambung (Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung) artinya budaya mereka tidak boleh diubah.

Dalam perjalanan pulang menggunakan jalur Danau, kami mampir di ladang ayah Sapri untuk melanjutkan lagi santapan makan durian dan membeli beberapa butir durian untuk oleh-oleh pulang ke Jakarta. Ayah Sapri membantu kami membawa durian dan ransel besar kami hingga ke Ciboleger, entah jalur mana yang dia gunakan sehingga membuatnya sampai setengah  jam lebih awal dari kami, padahal saat kami sudah jauh berjalan di atas bukit, ia masih sibuk mengikat durian. Ternyata trekking jalur danau lebih berat dibandingkan jalur Gajeboh karena hari hujan sehingga membuat jalan sangat licin dan berlumpur, namun demikian lama tempuh perjalanan hampir 2 jam lebih singkat dibandingkan jalur Gajeboh.

Kami mendapat banyak sekali pengalaman berharga dari suku Baduy Dalam. Mereka mengajar kami caranya hidup bersahaja. Kami rindu untuk kembali ke Baduy Dalam.

Buat kalian yang belum pernah ke Baduy Dalam dan tertarik untuk melakukan petualangan yang satu ini, berikut sepuluh kebiasaan orang Baduy Dalam yang mungkin perlu kalian ketahui:

  1.  Menggunakan pakaian hitam dan putih serta tidak menggunakan alas kaki sehingga mudah dikenali pada saat kita menemui mereka di Ciboleger.
  2. Bila kita mengajak lebih dari 1 orang Baduy Dalam untuk makan bersama, biasanya yang paling tua akan memesan makanan lebih dahulu sementara yang lebih muda menyusul. Lauk yang dipesan oleh orang yang lebih muda akan sama persis dengan lauk yang dipesan oleh orang yang tua.
  3. Anti teknologi. Mereka tidak menggunakan paku/gergaji untuk membuat rumah, melarang penggunaan deterjen untuk mencuci, serta tidak menggunakan alat transportasi saat hendak bepergian.
  4. Area rumah Pu’un (orang yang memiliki wewenang tertinggi di Baduy Dalam) dilarang keras dimasuki oleh siapapun, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengunjunginya.
  5. Tidak dapat menerima kehadiran orang dari bangsa asing (walaupun passport mereka berlaku dikebanyakan negara, namun itu tidak berlaku di Baduy Dalam)
  6. Bulan Kawalu adalah bulan suci suku Baduy yang berlangsung selama 3 bulan. Suku Baduy Dalam tidak dapat menerima tamu atau keluar dari areanya selama bulan suci.
  7. Menikah karena dijodohkan sehingga tidak ada masa berpacaran.
  8. Tidak memiliki kalendar atau jam apalagi akte lahir, untuk itu mereka sulit menjawab pertanyaan seputar waktu dan umur.
  9. Senang bertandang ke rumah para tamu yang pernah menginap di rumah mereka. Jangan heran bila satu waktu mereka datang ke rumah kalian dengan berjalan kaki dari desanya.
  10. Melatih anak-anak mereka berjalan kaki ke bukit-bukit serta memanjat pohon sejak usia dini. Namun mereka melarang anaknya bersekolah.

Berikut sepuluh tips yang mungkin dapat membantu kalian:

  1. Siapkan fisik dan kaki yang kuat untuk menempuh perjalanan ke Baduy Dalam.
  2. Miliki persediaan air minum yang cukup. Paling sedikit 1,5 liter untuk sekali perjalanan per orang.
  3. Carilah teman travelling yang menyenangkan dan senang dengan berpetualangan di alam seperti rombongan kami.  Mengingat perjalanan yang cukup berat maka mudah bagi seseorang merasa tertekan sepanjang perjalanan dan akan berat bila rekan seperjalanan kita adalah orang yang gampang mengeluh.
  4. Bawalah obat-obat yang dibutuhkan termasuk vitamin. Penting untuk menyediakan obat untuk menenangkan otot-otot kaki kalian kecuali kalian sudah terbiasa seperti orang Baduy.
  5. Bawalah  coklat yang bisa membantu kalian punya energi sepanjang perjalanan.
  6. Jika kalian membawa mobil sendiri, kalian bisa meminta penjaga parkir untuk mencuci bagian luar mobil kalian.
  7. Pada musim kemarau suhu udara di Baduy Dalam cenderung lebih dingin pada malam hari, untuk itu kalian bisa menyiapkan baju hangat bila berkunjung pada musim panas.
  8. Bawalah lauk pauk untuk makan kalian di Baduy Dalam.
  9. Jika kalian membawa anak kecil, sebaiknya menyewa porter untuk menggendongnya. Siapa tahu dia kelelahan dalam perjalanan.
  10. Buat kalian pencinta dan penikmat durian, mungkin lebih baik untuk datang saat musimnya tiba. Ini bisa menjadi motivator besar saat kalian lelah dan hampir menyerah diperjalanan.

Selamat berpetualang!

 

 

 

 

Iklan

6 pemikiran pada “Baduy Dalam, Mulai dari Durian yang Lezat Hingga Kearifan Local yang Memesona

    1. Salam kenal juga mbak. Sangat bisa mbak. Waktu kami ke Baduy Dalam, anak kami yg kecil baru 5 tahun. Biasanya anak-anak cenderung jalan lebih cepat dr yang dewasa dan lbh kuat.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s