Jeprat-Jepret Tiga Hari di Cirebon-Majalengka -Indramayu

Bertandang ke Cirebon sudah menjadi catatan kami sejak lama, entah karena kurang referensi maka niatan untuk bertandang selalu kami urungkan. Kali ini, niatan kami bulatkan karena yakin setiap sudut di Indonesia menyimpan keindahan yang bisa menambah catatan perjalanan kami.

Hanya dengan waktu tempuh 2,5 jam saja dari Cimanggis kami pun tiba di kota Cirebon Kamis dini hari. Penginapan yang kami sewa sangat bersih, bergaya modern minimalis dengan harga yang sangat-sangat masuk akal. Baik Receptionist maupun Satpam hotel sangat ramah menyambut kedatangan kami.

Nilai tambah dari kota Cirebon yaitu lokasinya yang berdekatan dengan Majalengka yang memiliki segudang keindahan alam yang tidak cukup hanya disambangi dalam beberapa hari saja. Sayangnya di Majalengka masih sangat jarang terdapat penginapan yang bagus setaraf Cirebon tapi ini jadi keuntungan tersendiri karena semakin sedikit turis yang datang maka kondisi alam akan semakin jarang dijamah.

Berikut beberapa lokasi yang sempat kami kunjungi selama berada di sana selama 3 hari:

Hari Pertama (Cirebon – Majalengka):

Desa Batik Trusmi – Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap. Batik Cirebon dengan warna-warna cerah dengan corak  Mega Mendung memberi ciri tersendiri di dunia perbatikan Indonesia. Sepanjang jalan di tempat ini, banyak berdiri toko-toko Batik Trusmi. Jika ingin membeli Batik Trusmi dengan kualitas yang baik dan tidak pasaran dapat mengunjungi Toko Lebet.

image
Gerbang kawasan Batik Trusmi

Kuliner Nasi Jamblang Ibu Nur – Seorang kawan lama yang tinggal di Cirebon memperkenalkan kami dengan Nasi Jamblang bu Nur yang katanya paling enak seantero Cirebon dan kerap dinikmati oleh Pejabat Papan atas negeri ini. Hampir setiap hari antrian panjang manusia memenuhi warung nasi ini. Lauk pauk Nasi Jamblang tidak banyak berbeda seperti lauk pauk umumnya di warung nasi  biasa hanya yang membuatnya berbeda adalah alas nasi ditaruh di atas daun jati.

image
Antrian Panjang Nasi Jamblang Bu Nur

Cipeteuy, Majalengka – Dari kota Cirebon ke Majalengka hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Kami pun tidak menyia-nyiakan siang itu untuk melongok ke Majalengka. Perjalanan ini membawa kami hingga sampai ke dekat air terjun Cipeteuy yang terletak di bawah kaki gunung Ceremai. Hujan rintik-rintik menambah dingin suasana sore itu. Kabutpun mulai turun menyelimuti ladang padi di bawah kaki gunung. Di lokasi ini juga terdapat bumi perkemahan, namun kondisi kendaraan harus cukup baik dan pengendara perlu menguasai medan jalan yang cukup terjal menuju lokasi.

image
Di kaki gunung Ceremai

Hari Kedua ( Majalengka)

Selama kunjungan kami di Cirebon, kami lebih banyak menghabiskan waktu di Majalengka karena memang tidak dipungkiri bahwa daerah ini punya terlalu banyak tempat indah yang ingin kami kunjungi.

Telaga Remis – Lokasinya berada di antara Cirebon dan Majalengka. Rimbunnya pepohonan di Telaga Remis membuat suasana terasa sejuk, namun sayang lokasinya kurang terawat dengan baik. Kami tidak terlalu menikmati tempat ini tapi  lokasi ini bisa jadi rekomendasi bagi para pecinta fotografi.

image
Telaga Remis

Telaga Nilem – terletak tidak jauh dari telaga Remis. Tempat ini memberi kejutan tersendiri bagi kami setelah kecewa dengan Telaga Remis. Jernihnya air telaga membuat bebatuan dan tanaman bawah air tampak jelas terlihat. Tampak dua orang bocah pemilik warung di pinggir telaga asyik berloncatan ke dalam telaga. Keasyikan bermain air di telaga ini membuat waktu berlalu terlalu cepat dan kami harus segera mencari tempat bermalam.

image
Telaga Nilem

Terasering Panyaweuyan, Majalengka – Lokasinya cukup jauh dari Telaga Nilem, namun pemandangan sepanjang perjalanan sungguh memanjakan mata. Sayangnya kami hadir pada saat musim menanam sehingga terasering tampak agak gersang. Waktu yang tepat untuk bisa menyaksikan hijaunya Terasering Panyaweuyan adalah antara bulan Desember dan Januari saat tiba musim menuai.

image
Terasering Panyaweuyan di musim tanam

Bumi Perkemahan Palutungan – kurang pas rasanya sebelum menancapkan tenda di alam bebas selama perjalanan. Palutungan, akhirnya menjadi tempat pilihan kami bermalam atas rekomendasi kawan, tempat perkemahan berbentuk teater yang dikelilingi pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Lokasi ini pun dekat dengan Curug Putri yang cukup terkenal di Kuningan. Tersedia toilet yang cukup bersih walaupun tampak dimakan usia. Malam yang dingin di Palutungan kami tutup dengan acara api unggun, sambil mendengarkan musik melalui JBL speaker portabel yang selalu setia menemani perjalanan kami. Bapak penjaga warung di dekat bumi perkemahan selalu siap membantu saat dibutuhkan. Sajian jagung rebus hasil masakan beliau menutup sarapan kami pagi itu.

image
Bumi Perkemahan Palutungan

Hari ketiga – (Majalengka-Cirebon-Indramayu)

image

Kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta melalui Jalur Utara untuk menghindari macet akhir pekan di area Bandung. Sepanjang perjalanan pagi itu dari Palutungan menuju Cirebon, kami dapat menyaksikan dengan sangat jelas jajaran pegunungan yang pada sore hari tertutup awan tebal.

Keraton Kecirebonan – Jalur ini memungkinkan kami untuk mampir ke Keraton Kecirebonan dan mampir di Indramayu. Keraton Kecirebonan berukuran tidak terlalu besar layaknya keraton di Yogya tapi menyimpan banyak sejarah peninggalan Belanda, Mesir serta raja-raja Eropa lainnya.

Indramayu – Sepanjang perjalanan menuju Indramayu, kami disuguhkan pemandangan alam sawah padi yang sangat luas dan panjang seakan tak berujung.

Lokasi Indramayu yang berada di pesisir pantai, menyuguhkan beberapa tempat yang cukup bagus untuk fotografi. Salah satu pantai yang cukup terkenal adalah Pantai Balong namun karena hari sudah menjelang sore kami hanya menyempatkan waktu berkunjung ke pantai Glayem di dekat pasar Ikan Indramayu. Tampak beberapa orang yang hendak membeli ikan segar dari para nelayan telah menanti di pinggir pelabuhan. Bagi penikmat Seafood dapat mencoba restoran Seafood yang cukup terkenal di pantai ini.

image
Pantai Glayem & Pasar Ikan
image
Pantai Glayem & Pasar Ikan

Hujan yang mengguyur Indramayu sore itu  menambah indahnya suasana sawah padi yang sejajar dengan deretan kaki gunung yang diselimuti oleh kabut, menghiasi perjalanan kami menuju Pamanukan. Kelak kami akan kembali mengunjungimu lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s